DIMANAKAH IMAN KU?

Terkadang aku sering melalaikan ibadahku bahkan bisa dibilang sering, bukannya tidak tahu bahkan cenderung sengaja melalaikannya baik dengan alasan sibuk maupun tidak. Dosanya pun bukannya aku tidak tahu, tapi entah mengapa aku tiada takut.

Aah... dimanakah iman ku? aku tahu dan percaya akan adanya Allah dan hari pembalasan itu, tapi langkah menuju maksiat itu tak terhentikan, sekali lagi hati ini bertanya "di manakah iman ku?"

Seorang ustadz pernah mengatakan "Bila engkau bertanya-tanya dimana imanku?, maka bersyukurlah antum. karena Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri antum, sebelum Allah akan menutup
rapat pintu taubat dan membiarkan antum dalam kemaksiatan sampai waktu ajal menjemput"

Lalu apa yang harus aku lakukan? tanyaku. "Yang ananda alami adalah futur, kondisi dimana iman berada dalam derajat terendah, disanalah iman antum berada".

"Mengapa ana bisa terkena futur?" tanyaku pada ustadz "tentunya futur ini sendiri dapat disebabkan oleh
berbagai hal. Tingkat stres yang tinggi, sehingga tidak dapat mengendalikan diri terkadang menjadi penyebab utama. Stres bisa diakibatkan oleh mobilitas yang terlalu tinggi, keadaan lingkungan, kondisi fisik tekanan mental dan banyak hal lain."

Disadari atau tidak setiap dari manusia normal pasti pernah merasakan futur. Akibat kondisi futur ini banyak sekali penyakit-penyakit keimanan mudah menjangkit. Antara lain;

1. Sulitnya Untuk Ikhlas

Kondisi ini membuat kita tidak rela melakukan, memberikan apa yang kita miliki dan pasrah atas apa yang telah terjadi. Rasa tidak ikhlas ini sering terjad karena kita merasa bahwa diri kita adalah pemilik dan merasa bangga dengan apa yang dimiliki sehingga sering merendahkan orang lain yang tidak memiliki seperti apa yang kita miliki.

Sehingga ketika itu hilang, kita menjadi tidak rela, menjadi marah karena ada keengganan (gengsi) untuk menjadi seperti orang yang tidak memiliki tadi.

Dari uraian di atas kita tahu bahwa ada banyak penyakit hati lain yang disebabkan karena ketidak ikhlasan, salah satunya adalah sombong. Sombong inilah yang kemudian menjadikan "sesuatu" sulit untu dilepas.

Ada baiknya jika kita ingat, kita ibarat tukang parkir atau penjaga tas yang hanya diminta untuk menjag titipan dengan baik. Kita adalah manusia yang dititipkan harta benda kepada kita untuk kita rawat dan kita jaga dengan baik dimanfaatkan untuk keperluan orang banyak. Karena pada hakikatnya Allah lah "Sang Pemilik" alam semesta dan seiisinya.

Seringnya kita berzikir dengan sungguh-sungguh akan membuat hati menjadi sejuk sehingga tidak mudah sombong dan dapat berbuat dengan mengharapakan ridho-Nya semata (ikhlas).

2. Kurangnya Rasa Syukur

Pernahkah kita merasa bahwa Allah tidak adil. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh seringnya kita berada dalam kondisi-kondisi nyaman dan ketika diberikan sebeuah cobaan kita merasa bahwa Allah tidak adil dan tidak memberika kita kenyamanan seperti dulu.

Atau terkadang kurangnya rasa syukur ini disebabkan karena seringnya kita melihat "ke atas" dan lupa untuk melihat "ke bawah". Apa yang sering kita lihat adalah sesuatu yang sering kita anggap ideal dan ternyata yang ideal itu tidak ada pada diri kita.

Lalu kita men-judge bahwa Allah tidak adil. Dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil, itu berarti kita sudah kufur akan nikmat yang telah diberikan Allah. Kita menganggap bahwa nikmat itu sejatinya adalah apa yang kita pandang ideal menurut kita dan orang-orang yang berada "di atas" kita. Ialah orang-orang yang sering kita anggap ideal.

Namun, jika kita telaah lebih jauh bahwa nikmat itu sejatinya adalah segala pemberian Allah yang bermanfaat, bagi kita. Dengan begitu, tentu kita tidak akan melupakan nikmat sehat.

Kenikmatan karena kita masih diberi umur panjang samapai sekarang, itu merupakan Nikmat yang perlu disyukuri. Berarti kita masih diberi Kesempatan untuk melihat dunia ini berkembang.

Jika kita merasa kurang bersyukur ada baiknya kita memperbanyak interaksi kita dengan orang-orang yang berda "di bawah" dan meminimalkan pandangan kita ke orang-orang yang ada "di atas".

3. Putus Asa dan Pesimistis

Karena kita menganggap Allah tidak adil inilah yang terkadang menyebakan kita putus asa dan pesimis terhadap kekuasaan Allah. Ingatlah bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, banyak kasus dan kejadian yang sama sekali tidak dapat diprediksi manusia, itu semua karena kekuasaan Allah.

Allah memiliki kekuatan yang begitu luar biasa yang dapat mengatur manusia, terkadang kondisi dimana merasa bahwa kekuasaan Allah tidak ditunjukan pada kita, ini lah yang menjadi penyebab rasa putus asa atau pesimistis.

Kita harus sering memahami hakikat kehidupan manusia
berdasarkan atas kekuasaan Allah. Kekuasaan Allah yang menjadikan segala sesuatu di alam ini, bahkan terkadang manusia memiliki pandangan terbatas terhadapnya.

Membaca Al Qur'an akan semakin menambah wawasan kita mengenali berbagai macam kekuasaan Allah.

4. Melalaikan Ibadah

Hal ini yang paling terlihat dari seseorang yang mengalami kondisi futur. Orang yang rajin shalat sunah
jadi lalai dengan sunahnya. Orang yang sering shalat di awal waktu dia akan semakin sering terlambat menunaikan shalatnya, orang yang sering telat shalatnya maka ia akan semakin sering meninggalkan shalatnya, orang yang jarang shalatnya maka ia akan dengan mudah meninggalkan shalatnya.

Inilah kondisi yang dapat diketahui secara nyata bahwa seseorang sedang mengalami kondisi futur. Tidak hanya ibadah mahdhoh saja tetapi juga ibadah-ibadah yang lain.

Sering kita lupa bahwa kita hidup di dunia ini hanyalah sementara, hidup ini hanya seperti kedipan mata, sangat singkat. Sehingga sebaiknya digunakan untuk menabung amal.

Apa yang akan kita bawa tidak lain hanyalah amalan, yang telah dikerjakan didunia sebagai bekal kita kelak. Tidak ada manusia yang sempurna tetapi berusahalah untuk mencapai kesempurnaan, karena Allah mencintai kita dengan sempurna.

Komentar

Sering Dibaca

BUKU ANAK INI ADALAH BUKU SYI'AH

TIGA KATA SULIT DAN TERLARANG DIUCAPKAN